ketuk play untuk melihat tayangan DMTV Malang

Dua Murid Nyaris Tenggelam di Sungai, Pihak Sekolah dan Wali Murid Gelar Mediasi

Pidie Jaya-SATUPENATV.COM:  Peristiwa yang hampir menghanyutkan dua Murid di SDN 6 Meurah Dua, di sungai Lhok Keubeu, Desa Sarah Mane, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, sempat viral di jagat Maya. Akhirnya pihak sekolah memanggil wali murid untuk mediasi, di kantor Dewan Guru, Sekolah Dasar Negeri 6 Meurah Dua, Pidie Jaya, Senin, 06/05/2024.

Mediasi yang dipimpin kepala sekolah, dihadiri beberapa dewan guru, komite sekolah, dua wali murid, kepala desa (sekdes) serta imam gampong Desa Sarah Mane.

Kepala SDN 6 Meurah Dua, Bakhtiar, membuka mediasi untuk menjelaskan, isu Refreshing Guru Bersama Murid di Sungai, yang sempat viral di jagat maya, bukanlah peristiwa besar yang sempat merenggut nyawa, tetapi cuma nyaris (hampir) tenggelam, saat mandi, di sungai.

“Pada hari naas tersebut, saya tidak hadir di sekolah dikarenakan saya sedang mengikuti Manasik Haji, tapi pihak sekolah telah meminta izin kepada saya untuk mandi-mandi di sungai bersama murid-murid. Saya memberi izin secara lisan sambil berpesan agar hati-hati dan tetap mengontrol anak-anak di sungai,” ucap Bakhtiar, mengawali mediasi.

Dalam mediasi tersebut, pihak sekolah bersama orang tua sepakat agar peristiwa tersebut tidak dibesar-besarkan lagi.

Meski sempat bersitegang antara guru dan wali dari AF saat mediasi berlangsung karena emosional dan silang pendapat, namun mediasi berakhir kondusif serta menghasilkan beberapa poin kesimpulan.
1. Saat mandi bersama di sungai, dewan guru memang mengawasi murid yang sedang mandi.
2. Kejadian AF nyaris tenggelam, bukanlah tenggelam fatal, tapi tenggelam kecil dalam kedalaman air diperkirakan hanya dua (2) meter.
3. Guru dan wali murid sudah saling memaafkan.
4. Kejadian tanggal 30/04/2024, menjadi catatan dan pelajaran ke depan bagi guru yang membawa murid ke sungai, agar lebih ketat lagi dalam mengawasi.
5. Ketua Komite sekolah mengharap agar ke depan pihak sekolah tidak lagi membawa murid-murid ke sungai Meureudu, jika memang itu bukan mata pelajaran sekolah.

Inti mediasi tersebut, bahwa dalam mengawal murid-murid di sungai, para guru tidaklah lalai, cuma saat kejadian AF nyaris tenggelam, guru agak jauh dari TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Secara terpisah, Zulkifli (Bang Don), salah satu tokoh pencetus (pendiri sekolah tersebut dimasa pemerintahan Bupati Gade Salam), yaitu SD/ SMP Satu Atap Sarah Mane (dulu) atau SDN 6 Meurah Dua/ SMPN 2 Meurah Dua (sekarang), mengharapkan agar acara anak sekolah mandi-mandi di sungai bersama guru saat jam pelajaran sekolah, sebaiknya ditiadakan saja, ujar Bang Don, yang juga wakil Komite Sekolah.

“Acara mandi di Sungai yang dilaksanakan guru bersama murid, sebaiknya ditiadakan saja, sebab kondisi sungai Lhok Sandeng dan Sarah Mane, memang berbahaya, walau musibah itu atas kehendak Allah, tapi kita tetap berusaha menghindar. Apalagi acara tersebut, tidak terlalu penting,” ucap bang Don.

Lebih lanjut, bang Don, juga menjelaskan Sungai Meureudu (di Lhok Sandeng dan Sarah Mane) ada tempat tempat tertentu yang tergolong angker. Salah satunya lokasi yang angker adalah “Lhok Keubeu.” Di Lhok Keubeu memiliki cerita tersendiri dan bukan mitos, jelas bang Don, yang juga salah satu sesepuh Sarah Mane.

“Syukur kejadian kemarin tidak merenggut nyawa, jika sempat, bagaimana? Semoga hal ini jadi pelajaran bagi kita semua,” pungkas wakil komite sekolah.

Seperti di berita sebelumnya, Refreshing ke Sungai Dua Murid Nyaris Tenggelam.

Saat mandi bersama di Sungai Sarah Mane, dua murid Sekolah Dasar Negeri 6 Murah Dua, nyaris saja hanyut terbawa arus di Krueng Meureudu, Pidie Jaya, pada Selasa 30 April 2024. Saat itu, murid-murid kelas IV, V dan VI diajak oleh guru sekolah untuk refreshing ke sungai.
Informasi yang dihimpun media ini, dari salah satu orang tua (korban) yang merasa terpukul dan kecewa saat mengetahui dari murid-murid, anaknya nyaris tenggelam di sungai. Kejadian tersebut berawal saat guru di SDN 6 Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh, membawa murid kelas 4, kelas 5 dan kelas 6 ke sungai, dengan alasan refreshing, di sungai Meureudu, tepatnya di Lhok Keubeu, Desa Sarah Mane, Kecamatan Meurah Dua.

Disaat murid-murid kelas 6 mandi sambil menyebrang ke sebelah sungai, salah satu murid berinisial AF (kelas VI) tenggelam, namun terapung lagi. Teman sekelas FZ, yang melihat AF nyaris hanyut, FZ  langsung memberi pertolongan, dengan cara melonpat ke air dan berenang serta membawa seuntai tali yang kebetulan tali sisa orang menjala ikan terletak di atas batu. FZ mendekati AF (kebetulan FZ pandai berenang). FZ memegang tangan AF serta membawanya pelan-pelan ke pinggir sungai (tempat yang dangkal) serta dibantu teman lainnya. Pada saat itu tidak ada guru yang berada dekat kejadian perkara. Sehingga yang menolong AF (teman sekolahnya). Bukan guru.

Orang tua dari AF sangat emosional, marah dan kecewa, sebab saat anak-anak nyaris hanyut, guru tidak ada di dekat mereka.

“Coba, jika tidak ada FZ (teman sekolah), bagaimana nasib anak saya. Sebab guru tidak disitu. Artinya, anak-anak diajak ke sungai tapi lepas dari kontrol para guru,” ujarnya penuh kecewa.

“Jika memang pergi ke sungai itu salah satu dari MATA PELAJARAN di sekolah, kan bisa dibawa ke sungai lain, seperti ke Batee Iliek, atau tempat lain, jangan ke sungai tersebut dan di lokasi yang angker pula.” ujarnya orang tua AF..

“Jika anak kita mati hanyut karena tanpa pengawasan guru, apa yang bisa dipertanggung jawabkan oleh sang guru.
Gak ada kan? Paling-paling dipecat dari PNS atau dipenjara. Tapi anak kami tetap tidak ada lagi,” sambung ortu AF kesal.

Sementara, wali kelas VI SDN 6 Murah Dua, Cut Nur Nazimah (akrab disapa ibu Cut) yang dijumpai di kantor dewan guru di SDN 6 Meurah Dua, pada Kamis (02/05/2024), membenarkan bahwa mereka mengajak murid-murid untuk mandi di Sungai,  pada Selasa (30/04/2024) yaitu murid kelas empat, kelas lima dan kelas enam. Hal itu dalam rangka mengurangi rasa penat di sekolah.

“Iya, kami bersama beberapa guru lainya membawa anak-anak ke sungai, hal itu sudah menjadi kebijakan sekolah (kearifan lokal). Bahkan sudah sering,” ujar ibu Cut.

Tetapi pihaknya mengatakan tetap mengontrol anak-anak. Dan itu hal biasa, ujar Cut

Keterangan ibu Cut berbanding terbalik dengan keterangan anak-anak yang menyaksikan kejadian tersebut, bahwa saat AF nyaris hanyut, tidak ada dewan guru di dekat mereka. Sehingga yang bantu (menolong) AF bukan guru, tapi teman sekolahnya.

Selang beberapa menit kemudian, kembali tenggelam salah satu murid lain, tapi saat itu ada dewan guru di dekat, lalu guru turun dan menolongnya. Sehingga tidak sempat hanyut terbawa arus.

Kendatipun tidak sempat merenggut nyawa para murid, pada saat itu, tapi beberapa wali murid malah mengutuk tindakan guru yang membawa murid-murid ke sungai, sebab sungai di Sarah Mane, lokasi tersebut termasuk angker. Sehingga para orang tua sangat khawatir jika terjadi apa-apa terhadap anak mereka.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pidie Jaya, melalui kabiddikdas, Makmurrizal, M.Pd, mengatakan, acara refreshing guru dan murid di SDN 6 Meurah Dua, tidak ada pemberitaan dari kepala sekolah ke dinas, baik secara lisan maupun tulisan.

“Seharusnya kepala sekolah menyurati Dinas jika ada acara-acara yang digelar di luar pekarangan sekolah, apalagi pergi ke sungai, agar kami tahu. Sebab jika terjadi sesuatu yang bisa merenggut nyawa anak orang, gimana? Sedangkan kami di dinas tidak mengetahui ada acara mandi-mandi di sungai,” ucap Makmur.

KETUK PLY UNTUK MELIHAT SIARAN SAMPIT TV